Rumor tentang komputer jinjing berlayar sentuh Apple Tablet sudah menggema sejak bertahun-tahun. Kabar terakhir, inovasi baru yang mungkin sedang dikembangkan Apple ini akan dirilis ke pasar mulai Oktober depan untuk menyambut liburan Natal dan Tahun Baru.
Harganya pun disebut-sebut bakal ekonomis karena masuk dalam kategori netbook, tetapi tetap masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga netbook karena dipatok pada harga 800 dollar AS.
"Apple tidak akan menyasar konsumen menengah ke bawah, menghindari kompetisi langsung dengan Acer, Asus, dan tentu saja netbook mereka yang harganya kurang dari 500 dollar AS," demikian diungkap China Times dan dilansir situs Gizmodo.
Menurut sumber tersebut, tiga perusahaan setidaknya sudah mendapat order untuk memasok komponen produk tersebut. Masing-masing Fozconn, Wintek, dan Dynapack.
Rumor mengenai Apple Tablet bermula tahun 2004 saat Apple kepergok memasukkan paten mengenai perangkat berlayar sentuh tanpa keyboard. Tahun 2006, Apple juga mematenkan keyboard virtual di layar sentuh. Tahun 2008, eksekutif Intel di Jerman menyatakan bahwa Apple dan Intel tengah bekerja sama untuk mengembangkan perangkat berbasis prosesor Atom.
Tahun lalu juga sempat beredar rumor bahwa Apple akan merilis iPod Touch dalam ukuran besar, Macbook Nano yang juga berlayar sentuh, dan iPhone Slate. Namun, semua rumor itu berlalu begitu saja tanpa menjadi kenyataan.
Kabar terakhir, lagi-lagi ini masih rumor belaka sebelum Apple meluncurkannya. Namun, sejak kapan sih Apple memberikan informasi sebelum produk barunya diluncurkan kecuali lewat rumor-rumor seperti ini. Lihat dan tunggu saja!
Rumor Terbaru, Apple Tablet Meluncur Oktober Seharga 800 Dollar AS
Sperma Baik untuk Kecantikan
- Sperma untuk menghaluskan kulit. Sperma memiliki kandungan yang ternyata baik untuk menghaluskan kulit. Bahkan, karena penemuan tersebut, sebuah perusahaan kosmetik di Norwegia bernama Bioforksning membuat sperma sintetis dan dijual sebagai obat facial di Amerika.
- Sperma bisa mendorong mood, laporan dari situs New Scientist. Sebuah studi yang dilakukan pada 2002 menemukan bahwa wanita yang melakukan kegiatan seksual dan terekspose sperma karena tak menggunakan kondom mengalami tingkat depresi kurang dari para wanita yang tak terekspose sperma atau tak melakukan seks sama sekali.
Meski ada pula faktor kemungkinan bahwa para wanita yang melakukan kegiatan seks tanpa pengaman tersebut berada dalam hubungan yang lebih stabil, berkomitmen, dan hal tersebut yang membuat mereka bahagia. Namun, para peneliti juga mengatakan bahwa air mani mengandung hormon yang mampu mengubah mood, seperti testosteron dan estrogen. Zat tersebut memasuki aliran darah wanita beberapa jam setelah sperma masuk ke dalam vagina.
- Aliran darah yang lebih ‘jalan’. Kegiatan fisik yang membuat berkeringat dan napas terengah-engah terdengar seperti sedang berolahraga? Ya, aktivitas seksual yang membara memang berlaku seperti olahraga. Ketika sedang melakukan aktivitas seksual yang mendebarkan, jantung Anda memompa darah lebih cepat dan mengeluarkan toksin dari tubuh lewat keringat. Ketika mencapai orgasme, biasanya pipi wanita akan terlihat merona.
- Hormon yang terlepas ketika melakukan seks bisa membantu menghilangkan rasa sakit. Seperti yang dilaporkan oleh Bulletin of Experimental Biology and Medicine, meningkatnya endorfin dari hormon oxytocin yang keluar ketika sedang bercinta bisa mengurangi rasa nyeri pada tubuh. Oxytocin juga dikenal sebagai “hormon cinta”, yang keluar dari tubuh kita setelah berhubungan badan dengan orang lain dan membuat kita tersenyum.
- Hormon seks membantu kita tidur lebih nyenyak. Berkat hormon oxytocin, kita akan merasa lebih nyaman, juga membantu tidur lebih lelap, seperti dilaporkan oleh WebMD. Tentu saja, tidur nyenyak dan cukup, baik untuk kecantikan, kan?
The Art of Forgiving
Anda mungkin masih belum dapat memaafkan seseorang yang pernah sangat dekat dengan Anda. Padahal, kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Namun, Anda juga masih belum bisa melupakan orang tersebut beserta kenangan-kenangannya. Pertanyaannya: Apakah kita sebaiknya perlu melupakan (forget) terlebih dahulu untuk bisa akhirnya memaafkan (forgive)? Ataukah justru sebaliknya?
Sebenarnya, berbicara soal memaafkan tidak bisa lepas dari konsep "forgiveness" itu sendiri. Forgiveness dapat berarti dua hal: meminta maaf dan memaafkan. Untuk melakukan dua tindakan tersebut, ada beberapa elemen yang dilibatkan, seperti korban, pelaku, dan berbagai jenis serta tingkat trauma, luka, atau ketidakadilan.
Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Leonard Horwitz, seorang ahli psikoanalisa dari Greater Kansas City Psychoanalitic Institute. Sedangkan Enright and Human Development Study Group (1996) menyebutkan bahwa tindakan forgiveness selalu berkaitan dengan tiga aspek. Yang pertama memaafkan orang lain, lalu menerima permintaan maaf dari orang lain, dan terakhir memaafkan diri sendiri. Untuk mencapai tataran forgiveness seutuhnya, ketiga aspek tersebut harus tercapai semua. Sayangnya, kita tidak dapat selalu mendapatkan ketiga aspek tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
Forgiveness memiliki berbagai manfaat, baik secara psikologis maupun kesehatan. Di antaranya adalah memperbaiki hubungan yang renggang antarindividu, menyembuhkan luka batin yang dalam, pemulihan bagi korban maupun pelaku, serta sebagai sarana untuk pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Orang yang sulit untuk memaafkan atau meminta maaf ternyata lebih rentan terhadap berbagai gangguan psikologis. Selain itu, mereka juga sulit untuk bisa mempertahankan tingkat kesehatan mental di hari tuanya.
Jangan pelit memaafkan
Mengampuni seseorang tidak langsung terjadi saat kita telah mengucapkan, "Ya, saya maafkan." Setidaknya, forgiveness bekerja melalui dua cara:
1. Kurangi stres yang muncul akibat dari keputusan untuk tidak memaafkan yang selalu diliputi oleh berbagai emosi, seperti sakit hati, kemarahan, agresivitas, kebencian, penolakan, dan ketakutan akan disakiti atau dipermalukan kembali. Jika emosi-emosi tersebut tidak diredakan, akan muncul gangguan-gangguan yang bersifat fisiologis. Misalnya meningkatnya tekanan darah dan perubahan struktur hormonal yang berhubungan erat dengan gangguan fungsi jantung, gangguan kekebalan tubuh, dan gangguan fungsi saraf dan ingatan.
2. Mencoba memaafkan. Di sinilah kita mungkin akan mengalami masalah, jika kita tipe orang yang sulit memaafkan orang lain. Seseorang yang pendendam dan pelit memaafkan biasanya sulit untuk membina hubungan jangka panjang dengan orang lain. Sebab hubungan yang telah terbina dapat rusak akibat kesalahan kecil. Setelahnya, orang lain pun akan sulit untuk mendekati dirinya karena telah melihat betapa buruknya caranya berelasi dengan orang lain. Lebih lanjut, orang yang sulit memaafkan atau meminta maaf, dan memiliki kebiasaan gemar mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, berpeluang lebih besar mengalami masalah kesehatan fisik dan juga mental.
Memaafkan butuh proses
Ahli teologi bernama Doris Deonneley mengatakan bahwa proses forgiveness membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menerima dan menyadari dampak menyeluruh dari peristiwa yang menyakitkan.
2. Memutuskan untuk memaafkan.
3. Menyadari bahwa memaafkan itu sulit untuk dilakukan dan selalu melibatkan suatu proses yang tidak menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.
4. Memaafkan diri sendiri. Kebanyakan orang mampu memaafkan orang lain tetapi sulit untuk memaafkan diri sendiri untuk perbuatan yang sama.
5. Mempertimbangkan akibat-akibat yang mungkin muncul jika kita belum dapat atau tidak mau memaafkan.
Hal terpenting yang perlu diingat: forgiveness bukanlah kejadian sesaat, melainkan sebuah proses. Forgiveness adalah suatu proses yang harus ditumbuhkan dan dipelihara karena berlawanan dengan kecenderungan alamiah manusia untuk membalas dendam dan menentang ketidakadilan. Memaafkan secara tulus memang sulit, namun kita semua pasti bisa melakukannya.
Sumber : Preventiona
Membuka Dokumen Corrupt
Saat bekerja dengan Microsoft Word mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Dokumen yang ingin Anda akses tiba-tiba rusak dan tak bisa dibuka. Dengan kondisi begini pasti Anda akan panik. Apalagi jika file tersebut adalah file penting, dan tidak ada file back up-nya.
Jangan berkecil hati dahulu! File yang rusak tersebut mungkin saja masih dapat diperbaiki dan diperbaiki dengan Text Recovery Converter. Caranya menggunakannya sebagai berikut:
1. Buka program Microsoft Word, lalu klik [File] > [Open].
2. Pilih file dokumen yang rusak tersebut.
3. Klik panah kecil yang ada di sisi kanan tombol [Open].
4. Pada menu drop down yang terbuka, pilih [Open and Repair].
5. File Anda yang rusak akan terbuka kembali. Tapi perlu diketahui, tingkat keberhasilan perbaikan ini tergantung dari seberapa besar kerusakan file Anda.
sumber: PCplus

