When this life becomes more difficult, I hope my starlight will stay to give me little hopeness in this black holes darkness sky

krisjoko

Kawasaki Ninja 250 Berkomponen Motor Italia

Tuesday, December 2, 2008 by kris joko

Budi Udin Fakkar dari Jatayu Motor Sport (JMS) memberi julukan “Cronos Superbike” pada Kawasaki Ninja 250 garapannya. Pemberian nama ini bukan sembarangan, terutama terhadap karyanya yang dinilai perfect seperti yang digarapnya pada motor kepunyaan Andre Wirahadi.

Cronos sendiri punya arti tersendiri. “Kira-kira the youngest leader of the titan. Secara harfiah, artinya pemimpin termuda di antara yang kuat. Jadi, kalau di motor, Ninja 250 merupakan motor terbaik di Indonesia,” jelas Budi yang selalu kasih nama motor setelah melacak di internet.

Sedang superbike dimaknakan motor yang identik dengan fairing. Makanya, fairing standar dipertahankan. “Namun kaki-kaki dirasa masih kurang kekar,” jelas Andre yang pengusaha pakaian muslim di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat itu.

Dari situ Budi lantas memasok komponen motor dari Italia. Pilihannya, Ducati 916 bikinan 1998, selain langka, harganya mahal. Pelek depan dan belakang serta lengan ayun (swing arm) dipindahkan ke Ninja. Kebetulan, katanya pemasangan tidak banyak kendala.

Seperti swing arm, walau lebar tidak perlu menggeser posisi gir depan. “Sebab sudah lurus, apalagi sasis Ninja 250 juga sudah lebar. Jadi, memang tidak ada kendala,” papar Budi.

Apa itu saja dari Ducati 916? Masih ada lagi! Setang dicomot dari Ducati Monster dengan pertimbangan khusus. “Selain tidak mentok spidometer, mudah pemasangan kunci kontak. Karena, posisi kunci kontak Ducati 916 di tangki,” ungkap Budi yang banyak menyediakan limbah moge.

Masih dari Ducati Monster, Budi mengambil komponen untuk setang jepit di upside down yang dipasang di bawah segitiga. Sehingga sudut sudut kemudi bisa diatur, termasuk juga ketinggian setang dapat disetel naik-turun.

Sementara untuk upside down dipilih kepunyaan Kawasaki ZX12 produksi 2007. Sekalian dengan sepatbor depannya. Alasannya, sistem penghenti laju sudah menggunakan kaliper radial yang lagi rame di MotoGP. Lengkap dengan kaliper Tokico karbon yang terpasang di sisi kiri dan kanan.

Untuk master dipilih khusus buatan Brembo radial. Punya diameter piston 16 mm. Diyakini lebih mantap untuk pengereman. Bandingkan dengan kepunyaan Cagiva Mito yang hanya 12 mm atau milik Ducati 916 yang hanya 14 mm. Sedang untuk keperluan racing bisa 19 mm.

Kenapa spidometer tidak sekali pakai punya Ducati? Budi malah memasang kepunyaan Suzuki Satria F-150. Alasannya, sensor spido yang seperti gigi nanas itu dipasang di roda depan. Bayangkan, jika dicomot dari Ducati 916 yang sensornya ada di mesin seperti Honda Kharisma.

Perfectly. (Aong)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax BT92 120/60x17
Ban belakang : Battlax BT92 190/50x17
Cakram depan : Disk Flower 320 x 2
Cakram belakang : Ducati 916 240 mm
Monosok : Ninja 250
Lampu sein : BMW E48
Pelat nomor : JMS
Panel karbon : JMS
Knalpot : Yoshimura
JMS : 0811-8393-91

Filed under having  

0 comments:

Post a Comment